Sepak Bola adalah olahraga PALING DIMINATI sejagat bumi. Tak heran, olahraga ini ada di seluruh dunia. Khabar baiknya, kita bisa belajar banyak dari SEPAK BOLA. Ada banyak filosofi di permainan olahraga ini. Jika bisa menyerap analoginya, niscaya Anda seperti Manchester United ( MU ) yang tak terkalahkan.
Di lapangan, Anda bukan siapa-siapa. Anda adalah TEAM bukan INDIVIDU. Tak ada di lapangan bola itu SUPERMAN tapi yang ada SUPER TEAM. Ini artinya, dalam bisnis Anda tak bisa bergerak sendiri. Anda perlu team ( karyawan ) dan seorang COACH.
Seorang coach akan MELIHAT KELEMAHAN Anda karena beliau dari PERSPEKTIF LUAR LAPANGAN. Area dimana Anda tak bisa melihat KELEMAHAN LAWAN dan KELEMAHAN DIRI SENDIRI adalah AREA BLANK SPOT.
Para pemain sepak bola sangat terbantu dengan kehadiran seorang coach. Mengapa mereka perlu seorang coach ? Anda bisa menjawab ? Apakah karena memang tuntutan industri bola yang mengharuskan ada coach ? Atau karena Alasan lain.
Coach berfungsi untuk MELENGKAPI KEKUATAN ANDA DAN TEAM ANDA. Bahasa ilmu gizinya, 4 SEHAT 5 SEMPURNA. Bersama coach, mata Anda bukan dua tapi tiga, dan kekuatan Anda bukan dua kali lipat tapi 10 kali lipat. Mau coba ?
Ilmu Palsu Memberi Belenggu, Ilmu Sejati Memberi Sayap
Coaching adalah pembinaan. Secara teoritis, coaching adalah proses
pengarahan yang dilakukan atasan / senior untuk melatih dan memberikan
orientasi kepada bawahanya tentang realitas di tempat kerja dan membantu
mengatasi hambatan dalam mencapai prestasi kerja yang optimal. Kegiatan ini
akan sangat tepat diberikan kepada orang baru, orang yang menghadapi pekerjaan
baru, orang yang sedang menghadapi masalah prestasi kerja atau orang yang
menginginkan pembinaan kerja. Tujuannya adalah untuk memperkuat dan menambah
kinerja yang telah berhasil atau memperbaiki kinerja yang bermasalah
Kalau diuraikan dalam kata-kata, manfaat coaching ini antara
lain:
1. MeningkatkanTCkeDC
Istilah ini saya pinjam dari literatur kompetensi. Di sana
dikatakan bahwa TC (thereshold competency) adalah kompetensi dasar yang
dimiliki seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya tetapi kompetensi ini belum
bisa dibilang sebagai keunggulan. Jika seorang sekretaris baru bisa menyalin
surat ke komputer, jika seorang operator hanya bisa mengangkat telepon, jika
seorang sales baru bisa mengetahui produk dan menelpon orang atau mengirim
faksimile penjualan, ini semua adalah TC. Memang itu tugas dasarnya.
SedangkanDCadalah Differentiating Competencies
(DC). DC adalah karakteristik yang dimiliki oleh orang-orang yang berkinerja
tinggi (high performer) dan yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang
berkinerja rendah (low) atau kurang (poor). Kita bisa ambil contoh misalnya
seorang sales yang sudah menguasai keahlian-keahlian yang dibutuhkan untuk
memelihara pelanggan yang menghasilkan hubungan kausalitas dengan penjualan.
Sales seperti ini bisa dikatakan orang yang berkinerja tinggi dengan kompetensi
yang dimiliki.
Persoalan yang kita hadapi adalah, bagaimana meningkatkan TC
seseorang menjadi DC? Disinilah coaching berperan. Kalau kita hanya menyerahkan
(memasrahkan) urusan ini kepada masing-masing individu, bisa-bisa saja. Cuma
saja di sini kerap menimbulkan masalah, sebab tidak semua individu sadar, tidak
semua individu tahu, dan tidak semua individu menempuh cara yang efektif dan
efisien untuk meningkatkan keahliannya dari TC ke DC. Konon, 98 % dari
usaha untuk membangun kompetensi terjadi melalui pekerjaan yang dilakukan
2. Jalan menemukan 3R
Meski semboyannya SDM itu aset, tetapi prakteknya tidak seluruhnya
begitu. Banyak SDM yang belum menjadi aset. Kata orang-orang SDM: “Hanya SDM
yang bagus yang menjadi aset usaha”. Bagus ini apa penjelasannya? Penjelasan
yang umum bisa kita singkat dengan 3 R: right people, right job and right
performance.
Persoalan yang kita hadapi adalah bagaimana menemukan 3R ini?
Tentu kita sadar bahwa 3R ini bukan sebuah hasil yang final (one-off). Amat
sangat jarang kita bisa langsung menemukan orang yang tepat untuk ditempatkan
di pekerjaan yang tepat agar bisa mencapai performansi yang tepat
(tinggi). Yang sering terjadi, 3R ini ini dicapai melalui proses. Jangan
kan karwayan, presiden atau menteri atau pejabatnegarayang sudah diseleksi sedemikian rupa
pun tidak bisa langsung mencapai 3R ini. Bahkan waktu seratus hari pun
dikatakan belum valid untuk menilai kinerja presiden dan menterinya.
Karena itu, coaching bisa menjadi salah satu jalan untuk menemukan
3R. Kalau pun 3R ini belum bisa diwujudkan ke tingkat yang ideal, tapi
setidak-tidaknya coaching yang kita lakukan akan memperluas wilayah
“interkoneksi” antara ‘workforce requirement’ dan ‘workforce capabilities’.
Kalau pekerjaan yang ada menuntut orang yang punya skill berskala 7,
sementara skill orang-orang yang ada hanya sampai pada skala 5, ini tentu
wilayah interkoneksinya belum nyambung. Supaya nyambung, harus dinaikkan.
3. Jalan menemukan pemimpin dari
dalam
Dulu, praktek bajak-membajak tenaga ahli pernah menjadi isu besar
di beberapa media massa . Sekarang pun praktek semacam ini masih kerap
dilakukan meski sudah jarang dijadikan berita. Adakah sesuatu yang salah dengan
praktek bajak-membajak ini? Secara konsep memang tidak. Cuma dalam prakteknya,
tidak semua orang yang kita bajak itu menjadi “berkah”. Ada yang malah menjadi
beban. Artinya, meski konsep ini bisa jadi benar di teorinya tetapi untuk
mempraktekkannya butuh konteks yang tepat dan alasan yang spesifik.
Kalau melihat hasil studi yang dilakukan Jim Collin, rupanya
praktek bajak-membajak ini kurang digemari oleh para pemimpin usaha yang sudah
sanggup menggerakkan usahanya dari good ke great. Mereka rupanya punya tradisi
untuk mengembangkan seorang pemimpin (senior atau tenaga ahli) dari dalam.
Dipikir-pikir, ini memang rasional. Orang dalam yang kita kembangkan, akan
memiliki pengetahuan tentang keadaan secara lebih mendalam ketimbang
tenaga baru yang kita bajak.
Nah, kalau melihat ke sini, coaching bisa kita jadikan instrumen
atau jalan untuk melahirkan seorang pemimpin dari dalam. Dilihat dari
efektivitas dan efisiensinya, cara ini mungkin lebih menjamin ketimbang
membajak tenaga baru yang masih “abu-abu”. Kalau pun orang yang kita coaching
itu tidak menjadi pemimpin di tempat kita, tetapi setidak-tidaknya kerjanya
sudah lebih bagus.
Hambatan di Lapangan
Apa yang perlu di-coaching-kan? Kalau mengacu pada standar yang
umum, yang perlu di-coaching-kan adalah hard skill dan soft skill (istilah
lain: soft competency dan hard competency, job skill dan mental skill). Semua
karyawan menginginkan skill-nya naik, tapi cara yang mereka inginkan ternyata
(yang paling digemari) adalah face-to-face coaching di tempat kerja. 88 %
jawaban responden yang diteliti meyakini bahwa memiliki seorang mentor atau
coacher di tempat kerja merupakan hal yang penting untuk kemajuan karirnya
(CCL, Emerging Leader Research Survey Summary Report, 2003)
Meski sedemikian rupa coaching itu pada hakekatnya dibutuhkan,
tetapi prakteknya masih belum banyak yang melakukan. Beberapa hal yang kerap
menghambat terlaksananya kegiatan yang mulia ini, misalnya:
1. Budaya menghakimi / memarahi Kita langsung memarahi karyawan saat melakukan kesalahan.
Marah terkadang tidak bisa dihindari tetapi yang kerap kita lupakan adalah apa
yang kita lakukan setelah marah. Kalau yang kita lakukan membenci atau
menjauhi, tentu akan berbeda efeknya dengan ketika yang kita lakukan setelah
itu adalah mendekati dan meng-coach-nya.
2.
Budaya membiarkan
Kita membiarkan karyawan bekerja sendiri-sendiri karena kita
malas atau tidak peduli dengan skill mereka. Membiarkan seperti ini tentu
berbeda dengan membiarkan yang punya pengertian memberi kesempatan untuk
mandiri dalam menerapkan pengetahuan.
3.
Budaya mengerjakan sendiri
Kita menangani sebagian besar pekerjaan dan enggan untuk
mendelegasikannya kepada yang lain karena kurang percaya
4.
Budaya mengharapkan hasil yang instan
Kita mengharapkan hasil yang instan dari apa yang kita
instruksikan pada mereka.
5. Budaya arogansi birokrasi
Kita menjaga jarak dengan karyawan untuk melindungi gengsi atau
kita engganturunke
bawah. Umumnya kita, semakin tinggi jabatan atau posisi, justru semakin jauh
dari realitas yang bersentuhan langsung dengan manusia dan masalahnya di bawah. SUMBER dari Ubaydillah,
AN
1. Membantu Pebisnis menggali Potensi dan kemampuan yang mereka tidak disadari.
Terkadang kita mempunyai kemampuan
dan keahlian yang tidak kita kembangkan dan maksimalkan untuk dapat
berguna bagi diri kita maupun orang di sekitar kita. Hal ini dikarenakan
kita tidak yakin dan tidak merasa mampu untuk menggunakannya. Seorang
coach akan menggali, bertanya dan menumbuhkan rasa keyakinan tersebut
kepada personal ataupun group yang dicoaching, agar mampu untuk
melakukan dan mengukur apa yang dilakukannya dibandingkan dengan hasil
yang diperoleh.
2. Membantu peningkatan Performance Business Owner dan Team dengan menciptakan Kondisi baru yang berbeda di lingkungan mereka.
Setiap orang di dalam perusahaan
pasti memiliki Performance kerja yang mereka gunakan dalam mengerjakan
setiap pekerjaannya. Namun ketika kita bertanya “Bagaimana mengukur
performance tersebut?” beberapa menjawab, performance diukur
berdasarkan hasil yang didapat sesuai dengan target… Bagaimana jika kita
tidak melihat hasilnya? Apa yang perlu kita lakukan untuk memperbaiki
kinerjanya? Tentunya jika tidak mengetahui bagian-bagian mana yang perlu
mendapat perhatian untuk dikembangkan, maka kita akan mengajari mereka
secara keseluruhan dari pekerjaannya lagi. Membuang waktu bukan? Tetapi
jika kita sangat paham bagian mana yang kurang dan bagian mana yang
sudah baik, maka akan sangat membantu untuk penanganan yang lebih detil
dalam tujuan peningkatan Performance bagi karyawan tersebut.
Seorang Coach akan menciptakan
suatu kondisi kerja yang baru yang bersifat membangun dengan
menghilangkan pola-pola lama di lingkungan kerja yang menghambat. Tentu
yang diubah termasuk pola dari kebiasaan di dalam menjalankan bisnis,
system kerja, dan pola kerja dari karyawannya. Perubahan didasari dari
kebutuhan yang diperlukan oleh perusahaan tersebut, dan seorang coach
akan memfasilitasinya, agar semua personal dari perusahaan tersebut
menyadari pentingnya perubahan dan merasa perlu untuk melakukan
perubahan. Perubahan tersebut termasuk business owner dan semua orang
yang berada di lingkup internal perusahaan.
3. Menciptakan Kesadaran Pebisnis dan Team terhadap Prioritas yang dilakukan di bisnis
Seorang Coach akan membantu
pebisnis untuk dapat menentukan Prioritas yang penting bagi bisnisnya
saat ini, yang mereka harus lakukan secara bertahap, sampai dengan
tujuan atau target mereka tercapai. Coach akan membantu dan
memfasilitasi pembuatan Business Plan ke depan yang akan dibagi menjadi
perencanaan yang membuat semua “key person” dari
perusahaan terlibat untuk mengetahui apa tanggung jawab dan target
mereka, sehingga secara bersama dapat menetapkan ukuran dan standar
kerja.
4. Membantu menselaraskan Vision, Mision, dan Value antara Owner, Leaders dan Employee yang ada di Perusahaan
Coach akan memfasilitasi semua
personal di perusahaan untuk menselaraskan Visi, Misi dan Value, karena
dengan keselarasan dari hal tersebut akan mempermudah pencapaian tujuan
perusahaan. Proses yang dilakukan adalah “Value Alignment”. Proses ini meliputi menghilangkan Negatif Emotion dan Limiting Decision, Value Elicit, serta membentuk Value Hierarchy baru
yang ditentukan dan disepakati oleh perusahaan. Training ini juga akan
membahas efisiensi pengelolaan biaya, serta bagaimana meningkatkan
produktifitas yang tujuan akhirnya adalah meningkatkan profit margin
bagi perusahaan.
Semua personal kunci di perusahaan
yang terlibat dalam pencapaian target perusahaan harus membuat suatu
ukuran yang disepakati secara bersama untuk dijalankan.
5. Memfasilitasi pengintegrasian pembuatan GOALS, PLAN, SOP dan KPI yang diperlukan untuk mencapai Visi perusahaan
Setelah melakukan Value Alignment
yang menghasilkan Goals, Plan, SOP dan KPI perusahaan, seorang coach
akan membantu dan memfasilitasi agar semua yang telah disepakati bersama
terintegrasi dan selalu dalam track yang benar dalam upaya pencapaian
visi perusahaan.
6. Membantu menghilangkan Negative Emotions dan Limiting Decision yang menghambat proses pekerjaan dalam mencapai Target perusahaan
Ini adalah hal penting yang
dibahas di atas yang termasuk pada bagian Value Alignment di corporate
training. Pada intinya teknik untuk menghilangkan Negatif Emotion dan
Limiting Decision adalah Time Line Therapy. Kenapa hal ini jadi penting?
Karena seseorang yang masih memiliki Negatif Emotion dan Limiting
Decision akan sulit untuk menjalankan strategi yang telah ditetapkan,
karena banyak pemikiran di masa lalu yang menghambatnya di masa sekarang
untuk mencapai tujuan. Beberapa Coaching Firm yang ada sedikit sekali
yang menggunakan metode ini, padahal ini adalah hal penting yang akan
membuat seseorang keluar dari batasan dirinya untuk mencapai apapun yang
mereka ingin capai dalam kehidupannya.
7. Membuat
Pebisnis Accountability terhadap implementasi dari setiap planning yang
telah disepakati untuk dijalankan agar mendapatkan hasil yang maksimal.
Hal ini yang kadang sulit, karena
musuh terbesar kita dalam melakukan suatu implementasi dari perencanaan
yang kita buat adalah diri kita sendiri. Coach akan membuat Anda untuk
Accountability terhadap setiap perencanaan Anda yang ingin
diimplementasikan.
Karena Accountability dari diri Anda akan sangat berpengaruh terhadap hasil yang Anda capai…..!
Apa Manfaat dari Coaching?
1. Manfaat 1: Business Owner Menyadari Potensi dan Kemampuan yang dimiliki
a. Pebisnis harus keluar dari zona nyamannya
b. Pebinis harus memiliki tujuan yang lebih besar lagi dari apa yang selama ini diyakini
c. Pebisnis dapat menggunakan potensi yang selama ini tidak digunakan secara maksimal untuk mencapai mimpi yang lebih besar.
d. Semakin Banyak yang Anda tahu justru semakin Banyak yang Anda tidak ketahui…
2. Manfaat 2: Business Owner dapat Meningkatan Performance dengan melakukan perubahan Kondisi sekitar
a. Pola yang sama akan menghasilkan hal yang sama pula
b. Pebisnis di coaching untuk dapat menganalisa sumber penghambat peningkatan performance
c. Pebisnis diarahkan agar dapat membuat kesepakatan dengan seluruh Team dalam perusahaan untuk
berada dalam kondisi Performance yang baik yang mendukung pencapaian Target perusahaan
3. Manfaat 3: Business Owner sadar akan Kebutuhan dan Prioritas
a. Apa yang penting di dalam perusahaan saat ini?
b. Buat tahapan Prioritas dari Goal Perusahaan 3, 5 10 tahun ke depan
c. Mengerti kebutuhan dari Customers
4. Manfaat 4: Business Owner memiliki Keselarasan Vision, Mission, and Culture dengan Value Alignment
a. Semua Leaders dan Team menyadari Tujuan yang ingin dicapai oleh Perusahaan
b. Membangun budaya perusahaan untuk menciptakan fondasi yang kuat dalam pencapaian tujuan
c. Semua ide dan pemikiran dari seluruh Anggota Team terakomodasi
d. Menimbulkan perasaan kebersamaan dan saling menghargai bagi seluruh Anggota Team
e. Membuat kesepakatan implementasi Budaya Perusahaan di setiap lini kerja di perusahaan
5. Manfaat 5: Business Owner memiliki Goals, Plan, SOP dan KPI yang jelas dan terukur
a. Menetapkan apa tahapan Goals yang akan dicapai
b. Membuat Perencanaan yang terukur dan dapat diimplementasi secara bertahap
c. Membuat SOP untuk setiap bagian lini kerja sehingga memiliki standard kerja yang dapat diukur
d. Memiki KPI untuk mengukur Kinerja Personal yang melakukan Proses
6. Manfaat 6: Coach dapat membantu mengurangi Negatif Emotions dan Limiting Decision yang ada
a. Kurangi dampak dari 5 Negatif Emotion (Anger, Sadness, Fear, Hurt, and Guilt)
b. Limiting Decision, suatu keputusan yang secara tidak sadar dapat menghambat proses kerja yang dilakukan.
c. Jika effect dari hal di atas dapat dikurangi dampaknya, maka Plan yang dibuat dapat dengan mudah untuk diimplementasikan.
7. Manfaat 7: Membuat Owners, Leaders, dan Team Accountability
a. Accountability untuk implementasi Planning yang dibuat
b. Menjamin untuk tetap on Track dan Fokus dalam pencapaian hasil
c. Hasil adalah Tanggung Jawab bersama dari setiap Anggota Perusahaan untuk mencapainya
Great Success
“SEKARANG SAATNYA ANDA UTK MENGHUBUNGI BUSINESS COACH AGAR BISNIS ANDA DPT DIBANTU” sumber : internet - google
Istilah coaching kini merupakan
kata populer dan sering disebut dalam suatu percakapan yang berkaitan
dengan pengembangan sumber daya manusia. Banyak perusahaan training yang
menyediakan pelatihan coaching dengan berbagai metode dan tools yang berbeda, namun dengan tujuan sama yaitu menjadikan peserta seorang coach yang handal. Organisasi masa kini sadar akan kebutuhan seorang coach
dalam organisasinya untuk memaksimalkan potensi karyawannya, karena itu
mereka mulai mengirimkan karyawannya untuk mengikuti pelatihan coaching.
Topik yang semakin ramai dibicarakan ini sangat menarik, tapi apakah coaching merupakan suatu kegiatan baru? Memang ada beberapa pendapat berbeda mengenai asal usul coaching. Ada pendapat bahwa coaching
secara alamiah merupakan bagian dari kehidupan seperti yang dilakukan
oleh orang tua ataupun guru. Tidak dapat disangkal lagi bahwa orang tua
dari dahulu kala berjuang dan berkorban untuk membesarkan anaknya agar
bisa tumbuh menjadi manusia yang matang dan mandiri; guru mendedikasikan
hidupnya untuk mengembangkan pemikiran anak didik mereka agar dapat
maju dalam hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa coaching
sudah ada sejak dahulu kala. Namun bagi mereka yang mengetahui atau
akrab dengan berbagai tools, pendekatan maupun metodologi canggih dalam
pengembangan sdm, coaching merupakan suatu ilmu dan profesi baru.
Jadi apa arti coaching? Kalau dilihat dari kata bendanya yaitu coach dalam kamus definisinya adalah:
• Kereta yang ditarik oleh kuda
• Bis yang dilengkapi dengan kenyamanan terutama untuk jarak jauh
• Gerbong kereta
Dari ketiga definisi diatas arti kata coach
adalah suatu kendaraan yang berfungsi membawa penumpangnya dari satu
lokasi ke lokasi lain yang menjadi tujuannya. Definisi ini
memperlihatkan pada kita bagaimana kata coach
akhirnya diberikan pada seseorang yang berperan untuk membantu
memperbaiki kehidupan atau kinerja orang lain. Karena kalau kita
analogikan, tugas dari coach adalah sebagai ‘kendaraan’ juga, kendaraan dalam kehidupan seseorang. Coach mengantar coachee (orang yang di-coach)
dari tahap kehidupan yang sekarang ke tahap kehidupan yang diinginkan,
melampaui rintangan yang menghambat kemajuannya hingga tercapai
cita-citanya. Contohnya seorang coach
dalam dunia olah raga. Tugasnya adalah meningkatkan ketrampilan yang
sudah dimiliki menjadi maksimal sehingga bisa mencapai peringkat yang
lebih tinggi.
Kalau dulu hanya di dunia olah raga seseorang atau tim menggunakan jasa seorang coach untuk meningkatkan kinerjanya, pada tahun 60-an di Amerika orang mulai mengadopsi model coaching
dalam dunia kerja. Belakangan dengan adanya kompetisi global,
pembelajaran dan pengembangan telah menjadi bagian yang krusial dalam
dunia kerja. Namun pelatihan saja kini sudah dianggap sebagai sarana
yang masih kurang efektif, karena belum tentu bisa membawa perubahan
perilaku yang menetap. Karena itu belakangan dalam dunia kerja coaching telah menjadi marak karena sifat aktifitas coaching yang intensif, sehingga bisa membawa perubahan perilaku tetap yang menguntungkan.
Jadi apa kegunaan dari coaching? Coaching bermanfaat untuk membantu seseorang mencapai tujuan dalam kehidupannya. Caranya? Coaching kini memegang prinsip bahwa coachee
secara alamiah kreatif, penuh sumber daya, dan merupakakn manusia yang
utuh. Karena itu ialah yang paling tahu jawabannya terhadap kebutuhannya
sendiri. Dalam hal ini coachee dilihat sebagai guru maupun murid. Dengan pendekatan ini coach tidak dilihat sebagai expert (serba tahu dan mempunyai jawaban terhadap semua masalah) dalam kehidupan coachee. Tugasnya adalah mengajukan pertanyaan yang tepat di saat yang tepat agar coachee bisa memulai suatu perjalanan menuju self discovery dan awareness (pemahaman dan kesadaran mengenai keadaan diri sendiri) dari perspektif baru yang berbeda.
Pemahaman dan kesadaran diri ini menghantarkan coachee
pada kepercayaan diri dan pemberdayaan dari perspektif yang baru,
sehingga timbul keberanian untuk melakukan tindakan-tindakan baru,
sehingga bisa mencapai hasil yang sebelumnya tidak pernah diraih. Jadi coaching adalah mengenai perubahan dan transformasi - mengenaikemampuan seseorang untuk tumbuh, merubah perilaku yang menghalangi kemajuan, untuk melahirkan perilaku serta tindakan baru.
JIKA ANDA TERTARIK INGIN MENDAPAT VOUCHER FREE COACHING SENILAI RP 5 JUTA, SMS KE 0819 086 00318an HARDI
KOMPAS.com - Dalam suatu pelatihan coaching, banyak peserta yang celingak-celinguk dan berpikir keras, saat saya bertanya: “Siapa atasan yang Anda anggap sebagai "coach" dan berkontribusi pada keberhasilan Anda?”.
Ternyata,
bagi mereka tidak mudah menemukan satu tokoh yang benar-benar berarti
dalam “membuat” diri mereka sukses. Para hadirin ini memang punya atasan
yang melakukan bimbingan, namun, mungkin mereka dirasa kurang memberi
nilai tambah secara signifikan, sehingga belum “sah” diberi label “coach”.
Sebaliknya,
seorang teman yang sukses di kariernya, sering sekali menyebutkan dosen
pembimbing skripsinya saat kuliah dulu sebagai "coach" yang andal. Padahal, masa bimbingan ketika itu hanyalah 6 bulan. “Dia memberi saya beberapa guidelines
yang tidak boleh dilanggar, serta langkah-langkah yang perlu
dijalankan. Demikian jelasnya, sehingga sampai sekarang pun saya tidak
berani menyalahi aturan tersebut”, katanya. Kita bisa lihat betapa “coach” yang berhasil akan diingat seumur hidup oleh “coachee”-nya. == SUMBER kompas.com ====
Dalam
konteks organisasi, seorang pimpinan unit kerja memiliki tanggung jawab
dalam memastikan pencapaian sasaran unit kerjanya. Merujuk kembali pada
fungsi kepemimpinan yaitu getting things done through others,
tugas pemimpin adalah memastikan karyawannya mampu bekerja optimal untuk
bisa meraih sasaran bersama. Oleh karena itu, keberhasilan seorang
pemimpin sangat besar dipengaruhi oleh sejauh mana ia bisa mengelola
kinerja karyawan dalam proses pencapaian sasaran.
Dalam
pekerjaan sehari-hari, karyawan senantiasa menghadapi peluang dan
hambatan yang harus direspons secara tepat. Mereka dituntut untuk mampu
memecahkan masalah yang ditemui dan mengambil keputusan yang paling
tepat untuk situasi tertentu. Tentu tidak semua karyawan bisa
menyelesaikan hal-hal ini dengan mudah. Ketika mereka tidak dapat
menyelesaikan masalah secara efektif (tidak bisa menunjukkan kinerja
optimal) maka pemimpin perlu membantu dengan melakukan upaya-upaya yang
diperlukan. Salah satu bantuan yang dapat diberikan untuk mengatasi masalah yang dihadapi karyawan adalah dengan melakukan coaching dan counseling.
Pengertian Coaching dan Counseling
Proses coaching dan counseling
memang seringkali dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Meskipun
demikian, terdapat perbedaan yang mendasar di antara kedua proses ini.
Sebagai proses yang bertujuan membantu karyawan agar bisa menunjukkan
kinerja yang optimal, coaching dan counseling dibedakan berdasarkan jenis sumber masalah yang menghambat kinerja seseorang. Seperti terlihat dalam bagan berikut:
Dengan kata lain, Coaching merupakan sebuah proses bantuan yang dilakukan ketika karyawan mengalami masalah kinerja yang disebabkan oleh keterbatasan pemahaman terhadap tugasnya. Sedangkan Counseling, merupakan proses bantuan yang dilakukan ketika karyawan mengalami masalah kinerja disebabkan oleh adanya masalah dalam kehidupan pribadinya.
Coaching VS Counseling
Kurangnya pembahasan mengenai coaching dan counseling tidak dipungkiri menyebabkan banyak pemimpin melakukan kedua proses ini secara kurang tepat. Kebanyakan pemimpin menganggap coaching dan counseling sebagai satu hal, atau bahkan tertukar antara konsep coaching dan counseling. Untuk menghindari hal tersebut, berikut merupakan tabel lengkap yang membandingkan setiap aspek proses coaching dan counseling.
COACHING
COUNSELING
Tujuan
Membantu karyawan mengatasi masalah kinerja karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan
Membantu karyawan agar mampu mengatasi masalah pribadi yang mengganggu kinerja
Proses
Atasan
mendengarkan dan menentukan apakah yang dikerjakan karyawan sudah benar
atau masih salah ; memberikan umpan balik dan memperlihatkan bagaimana
sebaiknya hal tersebut dilakukan/dicapai
Karyawan
mengevaluasi situasi dan perilakunya. Atasan mendengarkan dan mendorong
agar perasaan terungkap jelas. Atasan membimbing karyawan sampai pada
alternatif solusi
Diberikan Ketika
Terjadi perubahan arah bisnis sehingga tuntutan terhadap kinerja karyawan berubah
Karyawan baru pertama kali bekerja (fresh graduate)
Karyawan ditempatkan pada posisi baru (mutasi/promosi)
Karyawan tidak memahami standar kinerja yang dituntut
Karyawan membutuhkan penguatan atas prestasinya
Karyawan akan mendapat tugas yang lebih menantang
Karyawan sulit menentukan prioritas dalam bekerja
Karyawan diproyeksikan menjadi ”star” di unit kerjanya
Karyawan akan menjalani sesi performance review
Terjadi reorganisasi, karyawan di-PHK
Terjadi perubahan imbalan menjadi lebih kecil dari sebelumnya
Karyawan mengalami demosi jabatan
Karyawan tidak puas dengan atasan
Karyawan terlibat konflik dengan rekan kerja
Karyawan stress dengan beban kerjanya
Karyawan tidak mau mengerjakan tugas baru
Karyawan mengalami depresi karena kegagalan di pekerjaan
Karyawan takut dipromosikan
Manfaat
Karyawan
lebih produktif, kualitas hasil kerja meningkat, proses kerja
berlangsung lebih efisien karena kesalahan kerja relatif berkurang
Motivasi dan inisiatif kerja karyawan lebih meningkat karena adanya penguatan dan umpan balik yang positif
Karyawan lebih bebas mengembangkan kreativitas dan inovasi karena risiko sudah diperhitungkan matang
Bagi atasan : pekerjaan jadi lebih ringan karena delegasi berjalan baik, dan dimungkinkan terjadi kaderisasi
Karyawan lebih percaya diri dan berinisiatif dalam bekerja
Tingkat absensi dan turnover berkurang karena karyawan lebih puas dengan pekerjaan dan situasi kerja
Konflik antarpribadi berkurang
Masalah interpersonal dapat teratasi sebelum membesar
Pentingnya Coaching dan Counseling
Menurut paradigma change management, keberhasilan organisasi terletak pada kemampuannya beradaptasi
terhadap berbagai perubahan yang muncul di lingkungan. Pemberdayaan
karyawan menjadi penting dalam upaya membentuk pribadi yang mampu
beradaptasi terhadap perubahan. Penerapan coaching
yang efektif oleh pemimpin akan membantu karyawan untuk selalu belajar
mengatasi masalah secara mandiri, dan pada akhirnya melakukan
langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pribadi
mereka secara berkesinambungan.
Selain
itu, karyawan akan lebih mudah menghadapi perubahan yang terjadi di
organisasinya apabila kebutuhan rasa aman mereka secara pribadi dapat
dipenuhi. Rasa aman karyawan dapat ditumbuhkan jika organisasi
membuktikan dengan tulus bahwa karyawan selalu mendapat perhatian secara
pribadi. Hal ini bisa dicapai lewat aktivitas counseling, dimana pemimpin membangun hubungan personal dengan membantu karyawan menghadapi masalah pribadinya.
Menjadi
pemimpin saat ini tidak lagi cukup bermodalkan visi, misi, sistem
penghargaan, maupun sistem hukuman yang jelas. Sekarang, pemimpin juga
menjadi figur yang bertugas mengasuh anggota unit kerjanya untuk bisa
bekerja secara maksimal sesuai potensinya masing-masing.
Menjadi
tanggung jawab pemimpin apabila anggota unit kerja tidak bisa
menunjukkan kinerja terbaiknya. Oleh karena itu, hendaknya pemimpin bisa
lebih proaktif dengan bersedia turun tangan untuk membantu karyawan
mengatasi masalah-masalahnya.
Ketika karyawan telah berhasil mengatasi
satu masalahnya, maka satu beban masalah pemimpin juga ikut terangkat.
Pada akhirnya, pemimpin juga ‘kan yang diuntungkan? sumber : google
Terjun dalam sebuah bisnis mirip seperti memulai sebuah perjalanan
panjang. Ketika mencapai sasaran yang telah ditentukan, rasa letih
langsung hilang. Seperti saat menjejakkan kaki di tempat tujuan.
Berbisnis, in a way, bisa disamakan dengan sebuah perjalanan. Agar
bisnis yang dijalankan berjalan lancar, maka Anda harus merancang
terlebih dahulu. Apa yang ingin Anda capai, berapa lama waktu yang
dibutuhkan, berapa budget yang harus disediakan, dan yang penting kenapa Anda memilih jenis bisnis itu. Ini yang disebut business plan. Berikut ini adalah tips praktis merancang sebuah bisnis atau usaha baru: 1. Punya Passion.
Latar belakang meman berperan besar dalam menentukan sebuah bisnis
berhasil atau tidak. Misalnya begini, Anda sudah lama ingin ke Nepal.
Berbagai cerita tentang Negeri Atap Langit itu sudah banyak Anda dengar.
Anda juga rajin mencari informasinya. Walau begitu setiap kali
mendengar kata Nepal, jantung Anda berdetak lebih kencang. Anda bertekad
mengunjungi nengeri itu. Kalau sudah begitu, masalahnya tinggal waktu.
Bisnis pun begitu. Anda harus punya passion. Gairah terhadap bisnis yang
akan Anda geluti. Bedanya, dalam bisnis waktu tidak selonggar tadi.
Sesuatu yang kini menjadi tren, bisa saja 5 tahun lagi sudah menjadi hal
usang, out of date. Sehingga saat Anda melihat peluang yang
sudah lama Anda idam-idamkan, segera susun rencana. Rebut peluang
itu. Raih impian Anda. 2. Melihat Pasar.
Secara sederhana, bisnis cuma terdiri dari 3 unsur: produk/jasa yang
Anda tawarkan, pesaing dan pasar. Jadi hal pertama yang harus Anda
lakukan adalah melihat pasar. Apakah jumlah calon customer
cukup besar? hingga usaha itu punya peluang hidup. Bagaimana dengan daya
belinya? Apa saja kebiasaan-kebiasaannya? Bagaimana profitnya? Makin
banyak Anda tahu mengenai pasar, maka makin besar kemungkinan Anda dapat
memenuhi kebutuhan mereka. Kalau pasar masih cukup luas, Anda boleh
mengalihkan perhatian pada pesaing. Siapa yang menguasai pasar?
kira-kira berapa persen pangsa yang berada dalam genggamannya? Tak
terlalu sulit memperkirakannya. Analoginya begini, Kita dapat menebak
berapa besar Toyota Avanza menguasai pasar dengan menghitung jumlah
Toyota Avanza yang kita temui di sebuah lokasi dalam waktu tertentu dan
membandingkannya dengan jumlah mobil sejenis. Kalau dari 10 mobil
keluarga yang Anda temui, 5 mobil bermerk Toyota Avanza, maka Toyota
Avanza kira-kira menguasai seperuh dari pasar yang ada. Kondisi yang
paling baik adalah Adan memasuki sebuah pasar yang masing kosong. Anda
menjadi pemain pertama di situ. Kondisi ini seolah-olah seperti Anda
(misal seorang wanita) terdampar di sebuah pulau yang hanya dihuni oleh
pria. Kalau pria di pulau itu semua normal, maka Anda tak perlu usaha
banyak untuk menarik hati mereka, karena Anda tak punya pesaing. Tapi di
situasi yang kompetitif seperti sekarang, jaranga sekali ada pasar yang
dibiarkan kosong melompong. Bagaiaman Anda memenangkan persaingan,
bergantung pada unsur ketiga dalam bisnis, yaitu: Produk atau Jasa yang
akan Anda jual. Coba Anda bayangkan, apa keunggulan produk atau jasa
yang Anda tawarkan disbanding produk yang sudah lebih dulu ada. 3. Biaya Produksi.
Bekal mengenai pasar dan pesaing sudah memadai. Dari situ, Anda
memiliki bayangan yang lebih lengkap mengenai produk atau jasa yang akan
Anda tawarkan. Kini Anda sudah sampai pada tahap menyusun tim dan
menghitung biaya pembuatan yang harus dikeluarkan. Berapa orang yang
Anda butuhkan, berapa gaji yang harus dibayarkan. Apakah Anda sudah
memiliki lokasi kerja atau harus menyewa? Berapa biaya listrik dan
telepon yang harus dianggarkan? Hitung juga pemakaian alat tulis kantor
(ATK) seperti bollpoint, spidol, kertas, tinta printer dan sebagainya.
Biaya-biaya ini harus dikeluarkan setiap bulan, lepas dari jumlah barang
yang dihasilkan, dan disebut sebagai fixed cost. Ada biaya tetap, tentu ada biaya tidak tetap (variable cost),
seperti bahan baku, yang bergantung pada jumlah barang yang dibuat,
misalnya, bulan ini Anda memproduksi 500 buah barang dagangan, bulan
depan 400 barang dagangan, maka biaya yang dikeluarkan pasti berbeda.
Begitu juga dengan biaya pemesanan dan biaya pengiriman, yang bergantung
pada volume yang dihasilkan. Anda harus merinci semua kebutuhan tadi.
Dengan demikian Anda dapat menghitung biaya produksi tiap barang yang
dihasilkan. Kalau perhitungan Anda tidak rapi, Anda akan meleset dalam
menetapkan harga jual barang atau jasa Anda. Bisa terlalu murah yang
menyebabkan Anda rugi atau bisa terlalu mahal yang menyebabkan Anda
kalah bersaing dalam merebut konsumen.
4. Untung Rugi. In the end of business is about profit and loss.
Setelah mendapatkan biaya produksi untuk setiap barang, Anda dapat
menentukan harga jual. Caranya, biaya produksi setiap barang ditambah
jumlah keuntungan yang Anda inginkan (margin). Namun yang perlu
diperhatikan adalah berapa harga jual produk pesaing. Anda juga harus
mempertimbangkan daya beli calon konsumen dan seberapa besar pangsa
pasar yang ingin Anda raih. Harga memang punya pengaruh besar dalam
memutuskan membeli atau tidak. Tapi Anda dapat menambah daya saing
melalui cara pemasaran. Misalnya, menerima pembayaran secara angsuran
(kredit), memberikan diskon untuk pembayaran tunai dan pembelian dalam
jumlah tertentu, menyediakan bonus bagi pelanggan dan sebagainya.
Seru ya? Memang. Bisnis memang seperti sebuah perjalanan. Seru,
memberikan tantangan dan kepuasan sendiri. Apalagi bila Anda mencapai
target yang sudah Anda tentukan. Rasanya seperti tiba di kota tujuan.
Rasa lelah akibat perjalanan jauh langsung lenyap.