Dalam
konteks organisasi, seorang pimpinan unit kerja memiliki tanggung jawab
dalam memastikan pencapaian sasaran unit kerjanya. Merujuk kembali pada
fungsi kepemimpinan yaitu getting things done through others,
tugas pemimpin adalah memastikan karyawannya mampu bekerja optimal untuk
bisa meraih sasaran bersama. Oleh karena itu, keberhasilan seorang
pemimpin sangat besar dipengaruhi oleh sejauh mana ia bisa mengelola
kinerja karyawan dalam proses pencapaian sasaran.
Dalam
pekerjaan sehari-hari, karyawan senantiasa menghadapi peluang dan
hambatan yang harus direspons secara tepat. Mereka dituntut untuk mampu
memecahkan masalah yang ditemui dan mengambil keputusan yang paling
tepat untuk situasi tertentu. Tentu tidak semua karyawan bisa
menyelesaikan hal-hal ini dengan mudah. Ketika mereka tidak dapat
menyelesaikan masalah secara efektif (tidak bisa menunjukkan kinerja
optimal) maka pemimpin perlu membantu dengan melakukan upaya-upaya yang
diperlukan. Salah satu bantuan yang dapat diberikan untuk mengatasi masalah yang dihadapi karyawan adalah dengan melakukan coaching dan counseling.
Pengertian Coaching dan Counseling
Proses coaching dan counseling
memang seringkali dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Meskipun
demikian, terdapat perbedaan yang mendasar di antara kedua proses ini.
Sebagai proses yang bertujuan membantu karyawan agar bisa menunjukkan
kinerja yang optimal, coaching dan counseling dibedakan berdasarkan jenis sumber masalah yang menghambat kinerja seseorang. Seperti terlihat dalam bagan berikut:
Dengan kata lain, Coaching merupakan sebuah proses bantuan yang dilakukan ketika karyawan mengalami masalah kinerja yang disebabkan oleh keterbatasan pemahaman terhadap tugasnya. Sedangkan Counseling, merupakan proses bantuan yang dilakukan ketika karyawan mengalami masalah kinerja disebabkan oleh adanya masalah dalam kehidupan pribadinya.
Coaching VS Counseling
Kurangnya pembahasan mengenai coaching dan counseling tidak dipungkiri menyebabkan banyak pemimpin melakukan kedua proses ini secara kurang tepat. Kebanyakan pemimpin menganggap coaching dan counseling sebagai satu hal, atau bahkan tertukar antara konsep coaching dan counseling. Untuk menghindari hal tersebut, berikut merupakan tabel lengkap yang membandingkan setiap aspek proses coaching dan counseling.
COACHING
|
COUNSELING
|
|
Tujuan
|
Membantu karyawan mengatasi masalah kinerja karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan
|
Membantu karyawan agar mampu mengatasi masalah pribadi yang mengganggu kinerja
|
Proses
|
Atasan
mendengarkan dan menentukan apakah yang dikerjakan karyawan sudah benar
atau masih salah ; memberikan umpan balik dan memperlihatkan bagaimana
sebaiknya hal tersebut dilakukan/dicapai
|
Karyawan
mengevaluasi situasi dan perilakunya. Atasan mendengarkan dan mendorong
agar perasaan terungkap jelas. Atasan membimbing karyawan sampai pada
alternatif solusi
|
Diberikan Ketika
|
|
|
Manfaat
|
|
|
|
|
|
Pentingnya Coaching dan Counseling
Menurut paradigma change management, keberhasilan organisasi terletak pada kemampuannya beradaptasi terhadap berbagai perubahan yang muncul di lingkungan. Pemberdayaan karyawan menjadi penting dalam upaya membentuk pribadi yang mampu beradaptasi terhadap perubahan. Penerapan coaching yang efektif oleh pemimpin akan membantu karyawan untuk selalu belajar mengatasi masalah secara mandiri, dan pada akhirnya melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pribadi mereka secara berkesinambungan.
Selain itu, karyawan akan lebih mudah menghadapi perubahan yang terjadi di organisasinya apabila kebutuhan rasa aman mereka secara pribadi dapat dipenuhi. Rasa aman karyawan dapat ditumbuhkan jika organisasi membuktikan dengan tulus bahwa karyawan selalu mendapat perhatian secara pribadi. Hal ini bisa dicapai lewat aktivitas counseling, dimana pemimpin membangun hubungan personal dengan membantu karyawan menghadapi masalah pribadinya.
Menjadi
pemimpin saat ini tidak lagi cukup bermodalkan visi, misi, sistem
penghargaan, maupun sistem hukuman yang jelas. Sekarang, pemimpin juga
menjadi figur yang bertugas mengasuh anggota unit kerjanya untuk bisa
bekerja secara maksimal sesuai potensinya masing-masing.
Menjadi tanggung jawab pemimpin apabila anggota unit kerja tidak bisa menunjukkan kinerja terbaiknya. Oleh karena itu, hendaknya pemimpin bisa lebih proaktif dengan bersedia turun tangan untuk membantu karyawan mengatasi masalah-masalahnya.
Ketika karyawan telah berhasil mengatasi satu masalahnya, maka satu beban masalah pemimpin juga ikut terangkat. Pada akhirnya, pemimpin juga ‘kan yang diuntungkan? sumber : google
Menjadi tanggung jawab pemimpin apabila anggota unit kerja tidak bisa menunjukkan kinerja terbaiknya. Oleh karena itu, hendaknya pemimpin bisa lebih proaktif dengan bersedia turun tangan untuk membantu karyawan mengatasi masalah-masalahnya.
Ketika karyawan telah berhasil mengatasi satu masalahnya, maka satu beban masalah pemimpin juga ikut terangkat. Pada akhirnya, pemimpin juga ‘kan yang diuntungkan? sumber : google

Tidak ada komentar:
Posting Komentar